Bitcoin Terkoreksi Pasca FOMC, INDODAX Ajak Investor Tetap Fokus pada Fundamental

- Redaksi

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM || Jakarta – Bitcoin kembali bergerak ke kisaran US$64.000 setelah pasar merespons hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang dipimpin Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh. Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75%, nada kebijakan yang lebih hawkish membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap potensi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan bahwa koreksi pasca-FOMC merupakan bagian yang lazim dari dinamika pasar global, terutama ketika terjadi perubahan ekspektasi terkait kebijakan moneter global.

“Volatilitas seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi pasar aset kripto. Yang terpenting adalah investor memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek seringkali dipengaruhi sentimen makro, sehingga keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada riset dan strategi yang matang,” ujar Aloysia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sentimen tersebut turut tercermin pada arus dana institusional. ETF spot Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat tercatat mengalami arus keluar bersih (net outflow) US$112.8 juta pasca-FOMC, menunjukkan sikap yang lebih defensif dari sebagian pelaku pasar.

Baca Juga :  BMKG: Waspadai Cuaca di Riau Akhir Pekan ini Diperkirakan Hujan Lebat Disertai Petir

“Setiap periode volatilitas dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tujuan investasi, profil risiko, dan strategi yang digunakan. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk melakukan Do Your Own Research (DYOR), menerapkan strategi investasi berkala seperti Dollar Cost Averaging (DCA), dan menghindari keputusan yang didorong oleh fear maupun euforia pasar,” tambahnya.

Meski demikian, Aloysia menyebutkan bahwa investor perlu melihat perkembangan pasar secara lebih komprehensif dan tidak berlarut pada sentimen jangka pendek. Menurutnya, faktor fundamental seperti tingkat adopsi aset digital dan kripto, perkembangan teknologi blockchain, serta partisipasi investor jangka panjang tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga menghapus forward guidance, yaitu panduan atau sinyal eksplisit dari bank sentral mengenai kemungkinan arah kebijakan suku bunga ke depan. Langkah ini membuat pasar semakin bergantung pada data ekonomi yang lebih aktual seperti inflasi, pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter ke depan.

Baca Juga :  Ciptakan Rasa Aman di Masyarakat, Polsek Tualang Laksanakan Patroli Anti Premanisme dan C3

Kevin Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task forces) yang akan mengkaji berbagai aspek kebijakan The Fed, mulai dari komunikasi, neraca keuangan, sumber data, kerangka pengendalian inflasi, serta produktivitas, lapangan kerja, dan dampak artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian.

Kelima gugus tugas tersebut akan melibatkan ahli dari dalam dan luar The Fed untuk mengevaluasi kebijakan yang berjalan serta menyusun rekomendasi pengembangan ke depan. Langkah ini mencerminkan upaya The Fed meninjau kembali kerangka kebijakan moneternya di tengah perubahan ekonomi global dan perkembangan teknologi.

Aloysia menilai bahwa salah satu aspek yang menarik untuk dicermati adalah masuknya produktivitas dan dampak AI terhadap perekonomian sebagai bagian dari fokus kajian.

Baca Juga :  Staf PT PNM Mekaar Tualang Gelapkan Uang dan Inventaris, Polisi Amankan Pelaku

“Menariknya, salah satu fokus kajian The Fed adalah produktivitas dan dampak AI terhadap ekonomi. Ini menunjukkan bahwa bank sentral mulai memperhatikan faktor-faktor struktural baru yang berpotensi membentuk pertumbuhan ekonomi di masa depan. Sehingga, pelaku pasar juga perlu melihat perkembangan ini sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar, tak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga harian,” tutup Aloysia.

Sebagai top crypto exchange Indonesia, INDODAX juga mengingatkan para investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko, melakukan diversifikasi sesuai kebutuhan, berinvestasi secara rutin dengan metode DCA untuk meredam volatilitas, serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Edukasi dan pemahaman yang kuat terhadap aset kripto dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang. (Rls)

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Siapkan Aturan Khusus Usia Seleksi PNS
Kakorlantas Polri Lantik Kombes Pol Bayu Pratama Gubunagi sebagai Kabag TIK
Kapolri Bentuk Tim Khusus Usut Mendalam Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal
Kabar Gembira! Mulai 2027, Seluruh PPPK Paruh Waktu akan Diangkat Menjadi Penuh Waktu
Pangkostrad Dampingi Kasad Audiensi dengan Kapolri, Perkuat Soliditas dan Sinergi TNI-Polri
Irjen Pol Slamet Uliandi Menjadi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Purnawirawan Polri Prihatin atas Dugaan Penyadapan Presiden: Itu Pengkhianatan
Kapolri Tegaskan Kasus Listyo Sigit Murni Penegakan Hukum, Tidak ada Kaitan dengan Persaingan

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 18:03 WIB

Pemerintah Siapkan Aturan Khusus Usia Seleksi PNS

Sabtu, 7 November 2026 - 17:54 WIB

Kakorlantas Polri Lantik Kombes Pol Bayu Pratama Gubunagi sebagai Kabag TIK

Jumat, 6 November 2026 - 20:56 WIB

Kapolri Bentuk Tim Khusus Usut Mendalam Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal

Jumat, 6 November 2026 - 14:37 WIB

Kabar Gembira! Mulai 2027, Seluruh PPPK Paruh Waktu akan Diangkat Menjadi Penuh Waktu

Jumat, 6 November 2026 - 07:09 WIB

Pangkostrad Dampingi Kasad Audiensi dengan Kapolri, Perkuat Soliditas dan Sinergi TNI-Polri

Berita Terbaru

Daerah

Pemerintah Siapkan Aturan Khusus Usia Seleksi PNS

Sabtu, 7 Nov 2026 - 18:03 WIB

You cannot copy content of this page