Pekanbaru Buktikan Janji, Pemprov Riau Berdalih Defisit: Seragam Gratis Jadi Sorotan Publik

- Redaksi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM || PEKANBARU – Program seragam sekolah gratis kini menjadi salah satu isu paling kontras dalam tata kelola pendidikan di Provinsi Riau. Di satu sisi, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru berhasil merealisasikan bantuan tiga stel seragam gratis untuk seluruh siswa baru SD dan SMP negeri. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau membatalkan program seragam gratis untuk SMA/SMK sederajat yang sebelumnya sempat digembar-gemborkan dalam visi dan misi pasangan Abdul Wahid – SF Hariyanto saat kampanye.

Perbandingan ini tidak sekadar soal ada atau tidaknya seragam gratis, melainkan menyangkut konsistensi janji politik, kualitas perencanaan anggaran, dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho memilih mengambil langkah yang berani. Pemko mengalokasikan anggaran khusus sekitar Rp13 miliar untuk menyediakan tiga stel seragam bagi sekitar 20.800 siswa baru SD dan SMP negeri. Bantuan itu meliputi seragam wajib, seragam olahraga, dan seragam pramuka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, bagi siswa dari keluarga kurang mampu disiapkan tambahan tas dan buku gratis. Yang menarik, Agung Nugroho tidak membatasi penerima hanya bagi warga miskin.

Awalnya bantuan memang dirancang untuk keluarga kurang mampu, namun kemudian diperluas untuk seluruh siswa baru agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan polemik di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Indahnya Berbagi, Danrem 031/WB Pimpin Pembagian Takjil Berbuka Puasa Ramadhan 1446 H

Kebijakan ini layak diapresiasi karena mencerminkan prinsip bahwa pendidikan dasar harus bebas dari beban ekonomi yang memberatkan orang tua.

Di tengah tingginya biaya kebutuhan sekolah, langkah tersebut menjadi angin segar bagi ribuan keluarga di Pekanbaru.

Sebaliknya, program seragam gratis tingkat SMA/SMK di bawah kewenangan Pemprov Riau justru berakhir dengan pembatalan.

Alasannya adalah defisit anggaran daerah. Pemerintah provinsi menyatakan pendapatan daerah tahun 2025 diperkirakan hanya sekitar Rp8,2–8,4 triliun, sementara belanja yang telah ditetapkan mencapai sekitar Rp9,4 triliun.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengakui adanya tekanan fiskal yang berat, termasuk kewajiban membayar tunda bayar tahun sebelumnya dan penyesuaian belanja pegawai.

Secara administratif, alasan tersebut dapat dipahami. Namun dari sudut pandang publik, yang dipersoalkan bukan semata-mata defisit, melainkan mengapa program yang sudah diumumkan kepada masyarakat tidak didukung perencanaan anggaran yang benar-benar matang sejak awal.

DPRD Riau bahkan sejak awal telah mengkritik regulasi dan penganggaran program seragam gratis tersebut karena dinilai kurang siap dan berpotensi dipaksakan.

Berikut gambaran kontras kedua program tersebut:

Keberhasilan Pekanbaru tentu tidak bisa dilepaskan dari kapasitas fiskal daerah. Kota Pekanbaru merupakan daerah dengan PAD terbesar kedua di Riau setelah Kabupaten Bengkalis.

Baca Juga :  Bhabinkamtibmas Lubuk Dalam Kawal Ketahanan Pangan Bersama Kelompok Tani

Pada masa kepemimpinan Agung Nugroho, PAD Pekanbaru disebut berhasil menembus kisaran Rp1,2 triliun hingga Rp1,4 triliun, menjadikannya salah satu motor penggerak utama perekonomian Riau.

Sementara daerah dengan PAD relatif kecil seperti Kepulauan Meranti, Kuantan Singingi, dan Rokan Hilir memang menghadapi ruang fiskal yang lebih terbatas.

Namun pertanyaannya, jika Pekanbaru mampu mengalokasikan Rp13 miliar untuk pendidikan dasar, mengapa Pemprov Riau dengan APBD jauh lebih besar tidak mampu mempertahankan program seragam gratis yang sudah dijanjikan kepada masyarakat? Inilah inti kritik publik yang muncul belakangan ini.

Program seragam gratis SMA/SMK bukan sekadar bantuan pakaian. Bagi banyak keluarga, terutama penerima jalur afirmasi, bantuan itu merupakan simbol kehadiran negara.

Ketika program dibatalkan setelah lama dinantikan, yang muncul bukan hanya kekecewaan ekonomi, tetapi juga penurunan kepercayaan terhadap komitmen pemerintah.

Di sisi lain, langkah Agung Nugroho justru memperkuat citra bahwa pemerintah daerah bisa hadir secara nyata dalam urusan yang langsung menyentuh kebutuhan warga.

Kebijakan ini bahkan dapat disebut sebagai salah satu terobosan paling progresif di bidang pendidikan dasar di Riau.

Jarang ada kepala daerah yang berani menggratiskan seragam sekolah tanpa membedakan status sosial siswa. Pendekatan universal seperti ini mengurangi stigma terhadap siswa miskin dan memperkuat rasa kesetaraan di lingkungan sekolah.

Baca Juga :  Sekolah Dilarang Jual Seragam Sekolah, Disdik: Jika ada Temuan Segera Laporkan

Apakah ini yang pertama di Indonesia? Mungkin masih perlu verifikasi lebih lanjut karena beberapa daerah lain juga memiliki program bantuan seragam.

Namun, untuk ukuran kota besar seperti Pekanbaru, kebijakan tiga stel seragam gratis bagi seluruh siswa baru SD dan SMP negeri jelas merupakan langkah yang sangat berani dan relatif jarang dilakukan.

Pada akhirnya, polemik ini memberi pelajaran penting: janji pendidikan gratis tidak cukup diumumkan di panggung kampanye; ia harus ditopang oleh perencanaan fiskal yang realistis, regulasi yang matang, dan keberanian politik untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.

Hari ini, publik melihat dua wajah pemerintahan di Riau. Satu wajah menunjukkan program yang batal karena tekanan anggaran. Wajah lainnya menunjukkan program yang tetap berjalan karena dianggap sebagai kebutuhan mendesak masyarakat.

Dan untuk saat ini, dalam soal seragam sekolah gratis, Pekanbaru berhasil menepati harapan warga, sementara Pemerintah Provinsi Riau harus bekerja lebih keras untuk menjelaskan mengapa janji yang pernah digaungkan belum mampu diwujudkan. (Fa)

 

Facebook Comments Box

Editor : Reza

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabut Asap Masih Kepung Pekanbaru, Pemko Terapkan Sekolah Tatap Muka Terbatas
Semarak HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Donor Darah Ditlantas Polda Riau Kumpulkan 350 Kantong Darah
Kabut Asap Kembali Selimuti Pekanbaru, Peserta Didik Dipulangkan Lebih Awal
Sat PJR Respon Cepat Lindungi Warga dari Upaya Penarikan Kendaraan di Gerbang Tol Muara Fajar
Seragam SMAN 3 Siak Hulu Disorot, Bayar di BRI Link Diduga Milik Bendahara Komite, BASMI Riau Desak Disdik Turun Tangan
Tim Penyuluh Karhutla Berikan Edukasi kepada Masyarakat di Lirik Inhu
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai dan Kapolda Riau Turun Langsung Tinjau Karhutla di Inhu
Mulai Besok, Pemko Pekanbaru Kembali Terapkan Sekolah Tatap Muka Terbatas, Siswa Wajib Gunakan Masker

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 08:25 WIB

Kabut Asap Masih Kepung Pekanbaru, Pemko Terapkan Sekolah Tatap Muka Terbatas

Senin, 14 September 2026 - 16:28 WIB

Semarak HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Donor Darah Ditlantas Polda Riau Kumpulkan 350 Kantong Darah

Sabtu, 12 September 2026 - 20:21 WIB

Sat PJR Respon Cepat Lindungi Warga dari Upaya Penarikan Kendaraan di Gerbang Tol Muara Fajar

Sabtu, 12 September 2026 - 01:02 WIB

Seragam SMAN 3 Siak Hulu Disorot, Bayar di BRI Link Diduga Milik Bendahara Komite, BASMI Riau Desak Disdik Turun Tangan

Kamis, 10 September 2026 - 17:45 WIB

Tim Penyuluh Karhutla Berikan Edukasi kepada Masyarakat di Lirik Inhu

Berita Terbaru