Bitcoin Anjlok ke US$60.000, INDODAX: Aksi Jual Institusi dan Likuidasi Besar Jadi Biang Keroknya

- Redaksi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM || Jakarta — Harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam dan sempat menyentuh level US$60.000 pada perdagangan Jumat (6/2). Tekanan jual yang kuat menyeret Bitcoin ke level terendah intraday di kisaran US$60.000 sebelum bergerak fluktuatif, dengan penurunan hampir 30 persen dalam sepekan terakhir. Hal ini dipicu oleh kombinasi gelombang likuidasi posisi leverage dan meningkatnya tekanan jual dari investor institusional.

Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi di pasar kripto tercatat melampaui US$1,8 miliar, dengan mayoritas berasal dari posisi long. Lebih dari 500 ribu trader terdampak, termasuk satu posisi Bitcoin bernilai lebih dari US$12 juta yang terlikuidasi di bursa global.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan reaksi pasar yang berlangsung cepat di tengah tekanan likuiditas. “Ketika tekanan jual terjadi bersamaan, pasar kripto bisa bergerak sangat cepat karena banyak posisi ditutup dalam waktu yang sama,” ujar Antony.

Aksi likuidasi di pasar kripto juga diikuti oleh aksi jual dari investor besar. Hal ini terlihat dari aktivitas di pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin. ETF Bitcoin spot milik BlackRock, IBIT, mencatat volume perdagangan harian tertinggi dengan nilai transaksi melampaui US$10 miliar. Lonjakan aktivitas tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan harga IBIT dan diikuti penarikan dana dalam jumlah besar, menunjukkan bahwa investor institusional ikut melepas kepemilikan mereka.

Dari sisi teknikal, Antony menilai pergerakan Bitcoin juga menunjukkan pelemahan yang signifikan. “Bitcoin telah kehilangan area support di kisaran US$65.000 hingga US$62.000. Jebolnya level tersebut memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area US$60.000,” kata Antony.

Pelemahan harga tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) sempat turun di bawah US$1.800, sementara Solana (SOL) menembus level US$70 untuk pertama kalinya sejak Desember 2023. Tekanan ini menunjukkan aksi jual yang meluas di pasar kripto.

Baca Juga :  Liput Demo di DPR, Jurnalis Antara Dipukul Polisi

Antony menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini tidak hanya dialami pasar kripto. “Yang terjadi hari ini bukan hanya soal kripto. Tekanan juga terlihat di pasar saham teknologi dan aset berisiko lain. Di mana, ketika investor global mengurangi eksposur risiko, kripto biasanya juga ikut terdampak,” tegasnya.

Antony menjelaskan kondisi tersebut mencerminkan fase risk-off di pasar global, di mana investor mulai mengurangi kepemilikan pada aset berisiko di tengah pengetatan likuiditas dan rilis data ekonomi yang mengecewakan dari sejumlah negara.

Terkait pergerakan selanjutnya, Antony menegaskan bahwa arah Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas pasar global dan respons investor terhadap kondisi makro. “Selama sentimen global belum stabil, pergerakan Bitcoin masih akan mudah berfluktuasi,” lanjutnya.

Meski tekanan masih kuat, Antony menilai kondisi pasar seperti ini perlu disikapi dengan lebih hati-hati. “Karena pergerakan harga kripto bisa berubah sangat cepat, pelaku pasar perlu untuk selalu mencermati manajemen risiko dan mengikuti perkembangan berita ekonomi global yang dapat berdampak langsung ke pasar. Selain itu, penting juga untuk terus memperkaya pemahaman, termasuk dari sisi teknikal, dengan memanfaatkan sumber informasi dan edukasi yang tersedia secara gratis, seperti melalui INDODAX Academy, agar pengambilan keputusan lebih terukur,” jelas Antony.

Baca Juga :  Tegur Bocah Main Mikrofon, Imam Masjid di Palopo Dikeroyok Sejumlah OTK

Di tengah volatilitas yang masih tinggi, Antony menilai pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi salah satu cara bagi pelaku pasar untuk menyikapi kondisi saat ini. “Dalam situasi pasar yang belum stabil, strategi pembelian bertahap bisa membantu mengurangi tekanan dari fluktuasi harga jangka pendek. Yang penting, tetap menyesuaikan dengan kemampuan dan profil risiko masing-masing. Kami juga tidak bosan mengingatkan agar investasi dilakukan menggunakan dana yang memang disiapkan untuk itu atau uang dingin,” tutup Antony. (Rls)

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

INDODAX Raih Dua Penghargaan dari CFX, Perkuat Komitmen Edukasi dan Pertumbuhan Industri Kripto Nasional
INDODAX Gandeng Chainalysis untuk Memperkuat Standar Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto Indonesia
IAS Hospitality dan INDODAX Jalin Kemitraan Strategis untuk Menghadirkan Privilege Airport Lounge bagi Member
Jalan Rusak, Anggaran Fantastis: Kepala BPJN Sumbar Bungkam Saat Dicecar 15 Pertanyaan
Rupiah Melemah, Turis Malaysia Ramai Berburu Belanja Murah di Indonesia
GMNI Sumenep Desak DPMD Audit Dana Ketahanan Pangan 20% Desa, Soroti BUMDes Meddelan
PPI Geruduk DPRD Sumenep, Desak BK Tindak Anggota Dewan yang Diduga Tak Aktif Setahun
Polisi Tangkap 2 Preman Kampung Penganiaya Pasutri di Terowongan Tembung

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:56 WIB

INDODAX Raih Dua Penghargaan dari CFX, Perkuat Komitmen Edukasi dan Pertumbuhan Industri Kripto Nasional

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:10 WIB

INDODAX Gandeng Chainalysis untuk Memperkuat Standar Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto Indonesia

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:58 WIB

IAS Hospitality dan INDODAX Jalin Kemitraan Strategis untuk Menghadirkan Privilege Airport Lounge bagi Member

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:11 WIB

Jalan Rusak, Anggaran Fantastis: Kepala BPJN Sumbar Bungkam Saat Dicecar 15 Pertanyaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:37 WIB

Rupiah Melemah, Turis Malaysia Ramai Berburu Belanja Murah di Indonesia

Berita Terbaru