Dalam surat itu, pelaku memperkenalkan diri. Inisialnya EPB (35), warga Desa Keret, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo. Dalam surat itu pula dia mengaku menyesali perbuatannya. Dia juga menjelaskan alasan yang mendorongnya melakukan aksi pencurian.
EPB mengaku terdesak kebutuhan biaya pendidikan anak sulungnya yang harus segera dibayarkan agar bisa mengikuti ujian sekolah.
Tak hanya meminta maaf, ia juga berjanji akan mengembalikan uang sebesar Rp 352.000 yang diambilnya. Uang itu akan diganti setelah menerima gaji dalam dua minggu ke depan. Dia berjanji mengganti uang yang diambilnya menjadi Rp 400.000.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya baca ternyata surat dari maling itu. Isinya minta maaf, katanya mencuri untuk biaya sekolah anaknya dan dua minggu lagi uangnya akan diganti,” beber Alfin.
Selain melalui surat, EPB juga menghubungi Alfin melalui telepon dan pesan WhatsApp. Dalam komunikasi tersebut, dia kembali menyampaikan permintaan maaf serta menyatakan kesiapannya mengganti kerugian yang ditimbulkan.
Meski alasan yang disampaikan pelaku menimbulkan rasa iba, kejadian tersebut tetap meninggalkan trauma bagi keluarga korban. Saat ini toko kelontong milik Alfin harus tutup lebih awal, sekitar pukul 16.00 WIB, karena istri dan anak-anaknya masih merasa takut setelah peristiwa tersebut.
Di tengah situasi itu, Alfin masih membuka peluang penyelesaian secara damai. Namun, proses tersebut harus dilakukan secara resmi di hadapan pihak kepolisian mengingat laporan telah dibuat.
“Saya bersedia memaafkan kalau dilakukan di polsek karena saya sudah membuat laporan. Sekalian dia membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan tidak mengganggu keluarga saya lagi,” tegas Alfin.
Terkait jumlah uang yang hilang, Alfin mengaku telah mengikhlaskan nominal Rp 352.000 sebagaimana tertulis dalam surat pelaku, mengingat uang modal harian tersebut memang belum sempat dihitung secara pasti.
Kini, keluarga korban dan pihak kepolisian menunggu realisasi janji EPB untuk datang langsung menemui Alfin dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sepucuk surat yang ditinggalkan pelaku telah membuka sisi lain dari sebuah tindak kejahatan, memperlihatkan pergulatan seorang ayah yang mengaku terhimpit kebutuhan pendidikan anak, namun memilih jalan yang salah untuk menyelesaikannya. **
Editor : Reza
Halaman : 1 2























