Wahyudi El Panggabean Apresiasi Pendidikan Politik & Pelatihan Jurnalistik Nasdem Riau: “Kejujuran, Modal Utama Wartawan Profesional”

- Redaksi

Minggu, 28 September 2025 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM || PEKANBARU — Jika seorang wartawan memahami kewenangan yang diberikan undang undang kepadanya, dia pasti memiliki: keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

“Makanya, saya sangat mengapresiasi Nasdem Riau, yang menyelenggarakan acara ini,” kata Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC) Drs.Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT, Sabtu (27/9).

Tampil sebagai salah seorang pembicara pada acara Pendidikan Politik & Pelatihan Jurnalistik di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah Riau, Partai Nasdem, Wahyudi membeberkan pengalaman empirisnya hingga menjadi wartawan profesional di Majalah FORUM Keadilan, Jakarta di penghujung era Orde Baru.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara yang berlangsung satu hari penuh itu menampilkan empat pembicara: Wakil Ketua Bidang Pemuda & Olahraga, DPW Nasdem Riau, Dastrayani Bibra, Sekretaris Jenderal, Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang, Jurnalis Metro TV, Fitra Asrirama & Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC), Wahyudi El Panggabean.

Baca Juga :  Gencarkan Program Zero Anak Putus Sekolah, Pemko Pekanbaru Buka Posko Pengaduan

“Inti dari tugas jurnalisme itu: kejujuran. Sikap jujur itu lahir dari keberanian. Berani perduli, berani jujur dan berani belajar konsisten,” kata Wahyudi dihadapan 40 orang peserta yang juga mahasiswa, utusan 3 universitas di Riau.

Dengan bahasa retoris dan memukau, Wahyudi mengatakan ketiga syarat dasar itulah yang akan mengantar seorang wartawan pada level kompeten & profesional.

“Ketiga syarat itu pula yang saya lakoni dalam tugas jurnalistik semenjak saya menjadikan wartawan sebagai profesi penggilan hati di tahun 1985 silam,” ungkap Wahyudi.

Wahyudi menjelaskan prosesi yang mesti dijalani seseorang yang ingin meraih predikat wartawan profesional dan berintegritas.

“Ilmu jurnalis terbaik diperoleh dari pengalaman lapangan,” kata penulis buku-buku tentang jurnalistik itu.

Baca Juga :  Kabut Asap Masih Kepung Pekanbaru, Pemko Terapkan Sekolah Tatap Muka Terbatas dan Wajib Gunakan Masker

Menurut Wahyudi, Undang Undang No. 40 Tahun 1999, memberi kewenangan eksklusif bagi seorang wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Tetapi, kewenangan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan publik tentang informasi itu, jelasnya, praktis tak bermanfaat tanpa kemampuan wartawan mengapresiasi kewenangan itu.

“Makanya, saya mengatakan jurnalisme tidak hanya butuh, keberanian, kepedulian dan kejujuran. Juga kecerdasan. Wartawan jangan berhenti belajar,” tegas Wahyudi.

“Yang tidak terbantahkan adalah jika ditekuni secara serius, dijalani sepenuh hati, wartawan masih merupakan salah satu jembatan emas untuk meraih sukses. Percayalah!” kata Hakim Ethik Dewan Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Pekanbaru itu.

Kesejahteraan Wartawan.
Jika seorang wartawan, kata Wahyudi telah memiliki kompetensi, dia hanya bersedia bekerja di perusahaan pers profesional dengan besaran gaji & honorarium yang dinilainya layak dia terima.

“Jadi, soal penentu utama, tentang kesejahteraan, ada pada skill jurnalisme yang dipunyai si Wartawan,” kata Tokoh Pers itu.

Baca Juga :  GMNI Sumenep Desak DPMD Audit Dana Ketahanan Pangan 20% Desa, Soroti BUMDes Meddelan

Sebab, menurut Wahyudi, Pasal 10 Undang Undang No. 40 Tahun 1999 sudah jelas menginstruksikan agar Perusahaan Pers memberi kesejahteraan kepada wartawan dan karyawannya, berupa gaji,
honor atau bagi hasil laba.

Lantas, wartawan yang tidak menerima gaji atau honor yang layak dari perusahaan pers tempatnya bekerja, demikian Wahyudi, berarti institusi pers itulah yang diduga melanggar undang-undang.

Tetapi, lanjut Wahyudi masalah kesejahteraan di era kemerdekaan pers ini tidak saja bagai sekeping koin. Malah kian pelik karena, cenderung sudah membentuk “lingkaran setan”.

“Dari sisi lain, alibi yang sering mengemuka justru keengganan perusahaan menggaji wartawan, karena masih minimnya skill jurnalisme si wartawan itu,” tegas Wahyudi. (Fa)

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PJJ Pekanbaru Diperpanjang, Hujan Turun: BASMI Riau Desak Evaluasi Penanganan Kabut Asap dan Transparansi Anggaran
Kualitas Udara Belum Membaik, Pemko Pekanbaru Kembali Perpanjang PJJ Hingga Sabtu 17 Oktober
BASMI Riau Soroti Transparansi Rutan Sialang Bungkuk, Status Narapidana Inkracht Jadi Pertanyaan
BASMI Riau Soroti Tiang dan Kabel Fiber Optik Semrawut, Fadli Akbar Pertanyakan Pengawasan dan Kontribusi terhadap PAD Pekanbaru
Jangan Sampai Terlewatkan, Program Pemutihan Denda Pajak Kendaraan di Riau Hanya Sampai 30 November
Hak Beribadah Tetap Terjaga di Balik Jeruji, Lapas Narkotika Rumbai Kedepankan Pembinaan Humanis
Hunian Mewah di Balik Jeruji Cibinong Disorot, Tahanan Tipikor di Rutan Sialang Bungkuk Ikut Dipertanyakan!
Satlantas Polresta Pekanbaru Buka Layanan Pengaduan Jalan, Warga Bisa Lapor Lewat Instagram

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:25 WIB

PJJ Pekanbaru Diperpanjang, Hujan Turun: BASMI Riau Desak Evaluasi Penanganan Kabut Asap dan Transparansi Anggaran

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Kualitas Udara Belum Membaik, Pemko Pekanbaru Kembali Perpanjang PJJ Hingga Sabtu 17 Oktober

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:21 WIB

BASMI Riau Soroti Transparansi Rutan Sialang Bungkuk, Status Narapidana Inkracht Jadi Pertanyaan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:46 WIB

BASMI Riau Soroti Tiang dan Kabel Fiber Optik Semrawut, Fadli Akbar Pertanyakan Pengawasan dan Kontribusi terhadap PAD Pekanbaru

Rabu, 14 Oktober 2026 - 21:07 WIB

Hak Beribadah Tetap Terjaga di Balik Jeruji, Lapas Narkotika Rumbai Kedepankan Pembinaan Humanis

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page