SUARANEWS86.COM || SUMENEP – Di tengah derasnya arus modernisasi, warisan budaya lokal tetap menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Salah satu buktinya adalah Festival Tellasan Topak yang diasuh K. Abu Yazid, bersama Ketua Yayasan K. Saleh dan Ketua Grup Santreh Konah Moh. Syaikhol Hadi, Sabtu (29/3/2026).
Acara budaya ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan wadah pelestarian nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun. Festival ini berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat berkat kepemimpinan dan dedikasi para tokoh yang berkomitmen menjaga identitas budaya.
Di garis depan upaya pelestarian berdiri K. Abu Yazid, tokoh sentral yang menjadi penyangga semangat penyelenggaraan. Melalui pandangan dan keteladanannya, ia memastikan Tellasan Topak tidak berhenti pada pertunjukan, melainkan menjadi sarana penanaman nilai keagamaan dan kearifan lokal. Di bawah arahannya, festival tumbuh menjadi ajang yang dihormati setiap gerakan dan simbol yang ditampilkan memiliki makna yang terkait dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peran penting juga diemban K. Saleh selaku Ketua Yayasan yang menaungi kegiatan. Sebagai pengelola organisasi, ia memikul tanggung jawab manajemen, koordinasi, dan pengembangan agar festival berjalan lancar serta terus tumbuh. Yayasan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengelola, tetapi juga rumah bagi para pelestari budaya. K. Saleh aktif menjalin dukungan dari pemerintah maupun masyarakat luas demi memastikan keberlangsungan acara dan ketersediaan sarana-prasarana pendukung.
Sementara itu, denyut pertunjukan berada di tangan Moh. Syaikhol Hadi, Ketua Grup Santreh Konah. Sebagai pemimpin kelompok seni yang menjadi pelaku utama, ia memadukan kemampuan artistik anggota dengan makna tradisional yang hendak disampaikan. Di bawah kepemimpinannya, Grup Santreh Konah rutin berlatih dan berinovasi: menjaga keotentikan teknik pertunjukan Tellasan Topak sekaligus membuatnya menarik bagi generasi muda. Ia juga aktif mentransfer ilmu dan keterampilan kepada anggota baru, memastikan tongkat estafet kesenian tidak terputus.
Festival Tellasan Topak menjadi bukti bahwa ketika tokoh masyarakat, lembaga, dan kelompok seni bersatu, budaya akan tetap hidup dan berkembang. Melalui sinergi visi K. Abu Yazid, manajemen K. Saleh, dan kreativitas Moh. Syaikhol Hadi, acara ini tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membangun fondasi untuk masa depan.
Semoga semangat pelestarian ini terus menyala dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk bangga serta menjaga kekayaan budayanya. (***red)
























