DPP SPKN Bongkar Dugaan Jasa Fiktif Rp3,8 Miliar di PUPR Riau, Delapan Paket Pengawasan Jalan Dipersoalkan

- Redaksi

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM | PEKANBARU – Dewan Pimpinan Pusat Solidaritas Peduli Keadilan Nasional (DPP SPKN) kembali menyoroti pengelolaan anggaran di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR-PKPP) Provinsi Riau.

Sekretaris Jenderal DPP SPKN, Frans Sibarani, mengungkap adanya dugaan indikasi jasa fiktif (fictitious service) dalam penganggaran delapan paket kegiatan pengawasan rekonstruksi dan peningkatan kapasitas struktur jalan pada Tahun Anggaran 2026. Menurutnya, lokasi kegiatan yang dianggarkan tersebut diduga identik dengan paket pekerjaan yang telah dilaksanakan dan dinyatakan selesai pada tahun 2024.

Frans menjelaskan, pada tahun 2024 Dinas PUPR-PKPP Riau telah menganggarkan dan merealisasikan sedikitnya 19 paket pekerjaan pengawasan untuk sejumlah ruas jalan di Provinsi Riau. Namun pada tahun 2026, muncul kembali delapan paket pengawasan dengan lokasi yang sama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara teknis, pengawasan merupakan bagian yang melekat pada pelaksanaan pekerjaan fisik konstruksi. Jika pekerjaan fisiknya telah selesai dan dibayarkan pada tahun 2024, maka perlu dijelaskan apa yang menjadi objek pengawasan pada tahun 2026. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang patut mendapat perhatian,” ujar Frans kepada awak media, Senin (2/6/2026).

Baca Juga :  Bidang Pidmil Gelar Koordinasi Non Teknis Ke Polres Rohil dan Kejari Rohil

DPP SPKN mencatat total nilai anggaran dari delapan paket yang dipersoalkan tersebut mencapai Rp3.870.878.047.

Delapan paket yang menjadi sorotan antara lain pengawasan rekonstruksi dan peningkatan kapasitas struktur Jalan Cerenti–Air Molek, Mahato–Simpang Menggala, Dalu-Dalu–Mahato, Telaga Sam-sam–Tapung, Simpang Minas–Simpang Pemda–Simpang Tualang Timur, Rengat–Kuala Cenaku, Sepotong–Teluk Masjid–Simpang Pusako, serta Jalan Dalam Kota Pekanbaru.

Menurut Frans, berdasarkan penelusuran terhadap data realisasi anggaran Pemerintah Provinsi Riau, pekerjaan yang menjadi objek pengawasan tersebut telah tercatat selesai dan dibayarkan. Namun hasil penelusuran organisasi yang dipimpinnya menemukan dugaan tidak adanya aktivitas fisik baru yang dapat menjadi dasar pelaksanaan pengawasan pada tahun 2026.

Baca Juga :  Tak Ada Ruang Bagi Barang Terlarang, Lapas Pekanbaru Musnahkan Barang Bukti Hasil Razia

“Jika tidak terdapat pekerjaan fisik yang sedang berjalan, maka fungsi pengawasan menjadi tidak relevan. Apabila anggaran yang dialokasikan hanya menghasilkan laporan administratif tanpa adanya objek pekerjaan yang diawasi, maka kondisi tersebut patut diduga sebagai jasa fiktif dan harus diuji melalui audit investigatif,” tegasnya.

DPP SPKN juga menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara apabila terbukti terdapat pembayaran atas jasa yang tidak memiliki manfaat nyata atau tidak didukung pekerjaan fisik yang sah.

Dalam keterangannya, Frans merujuk pada sejumlah ketentuan hukum yang menurutnya berpotensi terkait apabila dugaan tersebut terbukti, di antaranya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ketentuan mengenai pemalsuan dokumen dalam KUHP, serta prinsip efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Baca Juga :  Harga Ayam Potong di Pekanbaru Naik Drastis, Tembus Rp37.000 per Kg

Meski demikian, DPP SPKN menegaskan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan membuka ruang bagi Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau untuk memberikan klarifikasi terhadap temuan tersebut.

“Kami meminta Inspektorat, BPK, maupun aparat penegak hukum untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh agar persoalan ini menjadi terang. Jika memang tidak ada pelanggaran, tentu hasil pemeriksaan akan menjelaskan kepada publik. Namun apabila ditemukan penyimpangan, maka harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Frans.

DPP SPKN juga mengingatkan komitmen Penjabat Gubernur Riau, SF Hariyanto, yang sebelumnya menegaskan pentingnya integritas dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Kami berharap komitmen pemberantasan penyimpangan anggaran benar-benar diwujudkan melalui langkah konkret, termasuk melakukan evaluasi dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat apabila temuan ini terbukti,” tutup Frans Sibarani. (Fa)

 

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Buru Pelaku Penusukan Terhadap Ayah dan Anak di Pekanbaru
Polsek Lirik Pantau Pembesaran 10.000 Bibit Lele Milik BUMDes Rejosari
Cegah Abrasi dan Banjir, Kodim 0302/Inhu Lakukan Aksi Nyata Bersama Warga Hijaukan Bantaran Sungai
Satgas Kodim 0302/Inhu Bangun Urat Nadi Baru Penghubung Dua Desa di Kuansing
Dekatkan Diri dengan Warga, Babinsa Koramil 01/Rengat Jalin Komsos dengan Masyarakat
Babinsa Komsos Ciptakan Silaturahmi dengan Warga Desa Binaan
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Lirik Pantau Tanaman Jagung Binaan
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Lirik Rutin Cek Pertumbuhan Jagung Pipil Binaan

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:33 WIB

Polisi Buru Pelaku Penusukan Terhadap Ayah dan Anak di Pekanbaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:33 WIB

Polsek Lirik Pantau Pembesaran 10.000 Bibit Lele Milik BUMDes Rejosari

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:44 WIB

Cegah Abrasi dan Banjir, Kodim 0302/Inhu Lakukan Aksi Nyata Bersama Warga Hijaukan Bantaran Sungai

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:41 WIB

Satgas Kodim 0302/Inhu Bangun Urat Nadi Baru Penghubung Dua Desa di Kuansing

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:38 WIB

Dekatkan Diri dengan Warga, Babinsa Koramil 01/Rengat Jalin Komsos dengan Masyarakat

Berita Terbaru

Hukum dan Kriminal

Polisi Buru Pelaku Penusukan Terhadap Ayah dan Anak di Pekanbaru

Rabu, 24 Jun 2026 - 15:33 WIB