Direktur LAKR, Armilis Ramaini S.H : “Tingkat Keparahan Korupsi di Riau Nyaris Mencapai Stadium-4”

- Redaksi

Selasa, 20 Mei 2025 - 12:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARANEWS86.COM | PEKANBARU — Direktur Lembaga Anti Korupsi Riau (LAKR), yang juga Advokat Senior, Armilis Ramaini, S.H., mengatakan, ibarat penyakit kanker, saat ini, tingkat keparahan korupsi di Riau nyaris mencapai Stadium-4. Budaya korup ini tumbuh subur dari imbas money politics (politik uang) di setiap Pilkada.

Ironisnya, lanjut Armilis, dalam situasi yang membuat perekonomian masyarakat terasa “gamang” itu, APH di daerah, yang diharapkan membasminya. Malah, ikut terseret arus deras budaya korup.

“APH yang seharusnya bertindak, malah, jadi: ‘Tukang pancing’ yang dilarikan pancing. Bukan justru berhasil menjerat ‘ikan’- pancingannya,” kata Armilis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjadi hal mendesak katanya, untuk meminta Aparat Penegak Hukum khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, & Mabes Polri untuk serius menyikapi maraknya tindakan korupsi di Riau.

Baca Juga :  Dandim 0302/Inhu-Kuansing Tinjau Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Dua Desa

Imbauan itu disampaikan Armilis menjawab pertanyaan sejumlah Pemimpin Redaksi Media Berita, di Pekanbaru, Senin (19/5).

Diketahui, Armilis baru-baru ini, mendeklarasikan LAKR yang didirikannya sebagai sarana kontribusinya dalam menebar misi, memerangi koronisme: budaya korup di Bumi Lancang Kuning.

Menurut analisa Armilis, jika diibaratkan penyakit kanker, tingkat keparahan korupsi di Riau sudah di atas Stadium-3,5.

Memang dalam istilah kedokteran kata Armilis, tidak dikenal istilah Stadium: 3,5 untuk penyakit kanker. (Yang dikenal: Stadium: 1, 2, 3 & Stadium-4 merupakan tingkat terparah-Red).

Lantas, Advokat Senior ini, mengemukakan illustrasi yang ironis. Jika memakai istilah kanker, katanya_kondisi keparahan penyakit korup di Riau ini nyaris menyamai kanker Stadium-4.

Armilis memberi contoh prosesi penyelidikan kasus dugaan korupsi SPPD Fiktif Setwan DPRD Riau oleh Polda Riau. Sampai kini, tidak jelas. “Ini yang saya sebut: APH dilarikan pancing,” tegasnya.

Baca Juga :  Plt Gubri dan Personel Polda Siap Amankan SPBU dari Penimbunan BBM

Padahal, nilai dugaan korupsi SPPD Fiktif Setwan DPRD Riau itu, demikian Armilis, setara dengan dana yang dibutuhkan untuk membangun 5 sekolah unggul. “Ini baru satu kasus. Ngeri!” katanya.

Mengingat banyaknya, laporan kasus dugaan korupsi yang saat ini mandeg di tangan APH di daerah, Armilis mengulangi imbauannya kepada APH dari “pusat” agar terpanggil untuk bertindak lebih progresif dalam pemberantasan koronisme korupsi di Riau.

Masalahnya, APH di Riau, kata Armilis, lebih tertarik menangani kasus-kasus kecil yang dipaksakan sebagai kasus grativikasi sebagai syarat formal kerja semata, sementara kasus besar didiamkan.

“Saya punya pengalaman tentang pemaksaan proses hukum atas kasus-kasus receh ini di tengah ketidakberdayaan APH mengungkap kasus korupsi besar,” tegasnya.

Jika ditelaah saksama, kata Armilis, titik awal pertumbuhan bibit korupsi di Riau adalah saat tindakan money politic di setiap pesta Pemilihan Kepala Daerah.

Baca Juga :  Lestarikan Budaya Melayu, Kapolres Inhu Bersama LAMR Inhu Resmikan Jum'at Bertanjak dan Slempang

“Pemimpin bermental korup lahir dari rahim demokrasi yang dinodai. Tindakan inilah kemudian yang menjadi awal konsekuensi yang panjang dalam mata rantai budaya korupsi di negeri ini,” katanya.

Untuk itu, Armilis berharap kepada pers yang masih memiliki integritas dan keberanian, terus mengontrol roda pemerintahan di Riau. Kemudian, tidak mudah tertipu oleh dialektika kepemimpinan halusinatif, yang berbasis validasi dan pencitraan.

Warga Riau, katanya perlu waspada dengan gaya kepemimpinan yang seolah-olah mebela urusan tetek bengek warga, tetapi kenyataannya, korupsi skala besar tetap merajalela.

“Para pemimpin korup tengah mempertontonkan pola kepedulian manipulatif kepada masyarakat, dengan memakai tekonolgi media sebagai sarana pembohongan. Hati-hati!” tandasnya. (Rls)

 

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Siswa Tewas Saat Mengambil Piala, BASMI Riau Soroti SMAN 1 Tapung dan Desak Evaluasi Kepsek
Kampung Narkoba Menuju Kampung Bersinar, Polda dan Pemda Perlu Hadirkan Program Nyata
Dugaan Pungutan Parkir di Dekat RSUD Arifin Achmad, BASMI Riau Desak Pemeriksaan Lapangan
Pulang Mengambil Piala Berujung Petaka, Dua Siswa SMAN 1 Tapung Alami Kecelakaan
Jelang Ops Patuh Lancang Kuning 2026, Dirlantas Polda Riau Pimpin Apel Pagi dan Pengecekan Kendaraan Patroli
Aksi Demo di Dinkes Pekanbaru Diduga Dibatalkan, Kadis Belum Beri Klarifikasi
Pajak Parkir di Pekanbaru Jadi Sorotan, Tim Media Minta Penjelasan Bapenda soal RSUD, Bandara hingga Minimarket
Polemik Fee Kayu Akasia Rantau Kasih Kembali Disorot, Datuk Marwas Sampaikan Klarifikasi

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:06 WIB

Siswa Tewas Saat Mengambil Piala, BASMI Riau Soroti SMAN 1 Tapung dan Desak Evaluasi Kepsek

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Kampung Narkoba Menuju Kampung Bersinar, Polda dan Pemda Perlu Hadirkan Program Nyata

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Dugaan Pungutan Parkir di Dekat RSUD Arifin Achmad, BASMI Riau Desak Pemeriksaan Lapangan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:06 WIB

Pulang Mengambil Piala Berujung Petaka, Dua Siswa SMAN 1 Tapung Alami Kecelakaan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Jelang Ops Patuh Lancang Kuning 2026, Dirlantas Polda Riau Pimpin Apel Pagi dan Pengecekan Kendaraan Patroli

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page