SUARANEWS86.COM || Fenomena konten digital berbahaya kembali memakan korban jiwa. Media sosial tengah ramai akan tren freestyle yang dilakukan anak-anak hingga mengakibatkan beberapa kasus siswa TK dan SD meninggal akibat cedera leher saat melakukan aksi tersebut.
Seorang siswa TK dan seorang siswa SD di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, meninggal dunia setelah diduga meniru aksi freestyle yang terinspirasi dari media sosial dan game online.
Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus menjadi peringatan serius bagi orang tua dan sekolah untuk lebih ketat mengawasi aktivitas anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban pertama, berinisial F, seorang siswa TK, yang meninggal akibat cedera fatal pada tulang leher setelah melakukan aksi berbahaya yang diduga terinspirasi dari konten salto-saltoan atau freestyle di media sosial.
Kasus serupa terjadi di Lombok Timur. Hamad Izan Wadi, 8, siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, meninggal dunia setelah lehernya patah akibat meniru aksi freestyle yang diduga terinspirasi dari game populer Garena Free Fire.
Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, membenarkan peristiwa tersebut.
Menurutnya, aksi freestyle itu sejatinya berlangsung minggu lalu di rumahnya. Akibat cidera leher itu, keluarga membawanya ke Rumah Sakit dr. Sudjono Selong.
“Peristiwa freestyle nya sudah lama. Korban sempat di rawat di RS Selong, selanjutnya dibawa ke RSUD Mataram dan meninggal dunia,”ujar Lalu Rusmaladi dikutip dari Disway.id, Selasa (5/5).
Pihaknya juga sudah meminta keterangan pihak keluarga terkait peristiwa itu. Korban diketahui merupakan anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Bahkan, kedua orang tuanya saat peristiwa terjadi berasa di luar negeri sebagai TKI. “Iya, orang tua korban merupakan TKI yang bekerja di luar negeri. Kami mengimbau masyarakat untuk memantau anak-anak agar tidak melakukan hal-hal tersebut,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut.
“Kami sudah membuat surat edaran ke seluruh sekolah dan UPTD agar ada pembatasan penggunaan handphone bagi siswa. Kami juga minta dukungan orang tua untuk mengawasi anak-anak. Kejadian ini harus menjadi pelajaran agar semua pihak berkolaborasi mengontrol perilaku siswa di luar sekolah,” paparnya.
Dua tragedi yang menimpa anak-anak gara-gara meniru tren di media sosial tersebut menunjukkan betapa seriusnya dampak konten digital dan game online terhadap perilaku anak. **
Editor : Reza


























