SUARANEWS86.COM — Fenomena pemecatan pekerja Gen Z di berbagai perusahaan menjadi perbincangan hangat setelah laporan terbaru dari Intelligent, platform konsultasi pendidikan dan karier, menyebutkan bahwa sekitar 6 dari 10 perusahaan melaporkan telah memutus hubungan kerja dengan lulusan universitas yang baru mereka rekrut. Alasan yang disebutkan meliputi kurangnya motivasi, profesionalisme yang rendah, serta keterampilan komunikasi yang buruk.
Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga APINDO, Sarman Simanjorang menjelaskan, tantangan yang dihadapi perusahaan dalam merekrut pekerja Gen Z memiliki berbagai aspek unik. Menurutnya, beberapa pekerja dari generasi ini terpecah antara mereka yang mencari pengalaman kerja untuk membangun usaha sendiri dan mereka yang mengalami penurunan produktivitas akibat pengaruh teknologi berbasis game.
“Games yang ada di gadget mempengaruhi sedikit produktivitas pekerja Gen Z. Mereka kadang terlena dan mengurangi produktivitas, bahkan target pekerjaan bisa terlambat karena kecanduan bermain game,” ungkap Sarman dilansir dari CNBC Indonesia, Sabtu (17/1/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, ia menyoroti adanya risiko gangguan lain seperti keterlibatan dalam praktik judi online yang dapat memengaruhi fokus dan disiplin pekerja muda. Meski saat ini pemerintah, lanjutnya, sudah berupaya memberantas judi online untuk menjaga produktivitas pekerja muda.
“Saya rasa ini juga menjadi salah satu yang diharapkan, sehingga para pekerja-pekerja Gen Z kita tidak terganggu, dan tidak terlibat dalam praktik-praktik judi online ini,” ujarnya.
“Jadi memang kita berharap bahwa pekerja-pekerja Gen Z kita yang ada di Indonesia mereka tetap produktif, mereka tetap pekerja-pekerja yang diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk meningkatkan produktivitas sebuah perusahaan,” imbuh dia.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


























