TNI dan Bahaya Politik Praktis: Panggilan Untuk Membenahi Manajemen dan Menegakkan Netralitas

- Redaksi

Sabtu, 3 Mei 2025 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Andree Armilis, MA
(Sosiolog dan Ahli Manajemen Strategik)

SUARANEWS86.COM — Suatu keputusan yang besar dalam institusi sekelas Tentara Nasional Indonesia semestinya melewati proses yang matang. Maka ketika mutasi Letjen TNI Kunto Arief Wibowo dari jabatan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I diumumkan pada 29 April 2025, publik—terutama kalangan pengamat militer—memahami bahwa itu adalah bagian dari mekanisme biasa dalam rotasi pejabat tinggi TNI. Namun yang luar biasa adalah pembatalannya hanya sehari kemudian.

Peristiwa ini tak ubahnya tamparan bagi wibawa institusi militer yang selama ini dikenal disiplin, tertib, dan penuh perhitungan. Keputusan yang berubah dalam hitungan jam bukan hanya menciptakan kesan bahwa TNI tidak solid dalam pengambilan keputusan strategis, tapi juga membuka ruang spekulasi tentang adanya tekanan politik yang masuk ke ruang-ruang steril kemiliteran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketika Manajemen Tergerus Politik”

Saya tidak hendak mendramatisasi persoalan ini, tetapi fakta bahwa Letjen Kunto adalah putra dari mantan Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno—tokoh senior dalam Forum Purnawirawan TNI yang sempat menyatakan sikap kritis terhadap kepemimpinan nasional, termasuk keberadaan Wapres Gibran Rakabuming Raka—menjadikan momen ini sarat tafsir politis.

Baca Juga :  Pemerintah Hapus PPh 21, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Dapat Tambahan Penghasilan

Padahal, militer di negara demokratis seharusnya tidak larut dalam urusan politik praktis. Sebagaimana ditegaskan oleh Samuel P. Huntington dalam The Soldier and the State, militer yang sehat adalah yang tunduk pada otoritas sipil, namun tetap menjaga otonomi profesionalnya. Militer tidak boleh menjadi alat kekuasaan. Ia adalah alat negara, dan kesetiaannya hanya kepada konstitusi, bukan kepada figur atau partai politik.

Sayangnya, dalam praktiknya, profesionalisme itu rapuh ketika manajemen internal tidak dijalankan dengan baik. Pembatalan mutasi secara mendadak mencerminkan ketidakstabilan manajerial dan lemahnya sistem perencanaan yang seharusnya kokoh dalam institusi sebesar TNI.

“Tantangan Era Baru: Kepemimpinan Militer dalam Society 5.0”

Fenomena ini menjadi lebih mengkhawatirkan jika kita kaitkan dengan tantangan era kontemporer. Dalam studi saya bersama Arafah dan Syafri yang diterbitkan di Scientific Research Publishing (2024), kami menekankan bahwa kepemimpinan militer saat ini tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknis dan komando. Di era Society 5.0—di mana batas antara ruang fisik, digital, sosial, dan politik kian kabur—militer harus dipimpin oleh figur yang mampu mengelola kompleksitas, adaptif terhadap perubahan, dan terbuka terhadap transparansi.

Baca Juga :  Usai Sidak ke RSD Madani, Walikota Pekanbaru Langsung Tinjau Pelayanan di Puskesmas Simpang Baru

Kepemimpinan semacam ini menuntut keterampilan konseptual yang tinggi, kecerdasan emosional, dan komitmen terhadap prinsip good governance. Apalagi di tengah dinamika strategis global yang semakin tidak menentu—dari perang siber, perang informasi, hingga ketegangan geopolitik yang menyentuh batas teritorial kita—militer harus menjadi institusi yang andal, bukan mudah terombang-ambing oleh tekanan internal maupun eksternal.

Ketika keputusan strategis seperti mutasi jabatan tinggi bisa dibatalkan dalam sehari, bagaimana kita bisa berharap sistem kepemimpinan TNI mampu menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dan mendesak?

“Saatnya Meluruskan Arah”

TNI adalah kebanggaan bangsa. Di pundaknya bertumpu bukan hanya tugas pertahanan, tetapi juga kepercayaan rakyat. Maka ketika dinamika internalnya terganggu oleh aroma politisasi atau kesan tarik-ulur kekuasaan, yang harus segera dilakukan bukan sekadar klarifikasi, melainkan perbaikan mendalam.

Perbaikan itu harus mencakup pembenahan sistem manajemen personel berbasis meritokrasi, peningkatan transparansi dalam rotasi jabatan strategis, serta penguatan kembali etika dan budaya netralitas militer. Sebab netralitas bukan sekadar jargon normatif; ia adalah fondasi dari profesionalisme militer. Dan profesionalisme adalah syarat mutlak agar TNI tetap menjadi institusi yang kuat, dihormati, dan tidak mudah digunakan oleh kekuatan politik manapun.

Baca Juga :  Panglima TNI Dukung Wacana Siswa Nakal Dikirim ke Barak Militer

Saya percaya bahwa di dalam tubuh TNI masih banyak pemimpin yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip itu. Namun jika manajemen internalnya terus dibiarkan longgar dan mudah disusupi motif di luar kepentingan negara, maka lambat laun integritas institusi ini bisa rusak dari dalam.

Tidak ada bangsa besar tanpa militer yang kuat dan profesional. Namun kekuatan militer bukan diukur dari jumlah senjata, melainkan dari kualitas kepemimpinan, kedisiplinan institusi, dan kepercayaan publik. Maka mari kita jaga TNI dari kerusakan yang ditimbulkan oleh ketidaktegasan manajemen dan intervensi politik yang mencederai netralitasnya.

Karena jika militer telah ikut bermain politik praktis, maka siapa lagi yang akan berdiri netral untuk kepentingan bangsa? (Fa)

 

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel suaranews86.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ikuti Retreat Nasional di Magelang, Muhammad Isa Lahamid : “Retreat Nasional Memiliki Makna Strategis yang Jauh Melampaui Kegiatan Seremonial”
KPK Temukan 8 Potensi Korupsi dalam Program MBG
Pers Indonesia Berduka, Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Akibat Serangan Jantung
Menteri ESDM: Hingga Akhir Tahun 2026, Harga BBM Subsidi Tak Akan Mengalami Kenaikan
Bentuk Penghormatan Negara, Panglima TNI Pimpin Upacara Pemakaman Militer
UNIFIL Gelar Upacara Memorial untuk Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Selatan
Pererat Kemitraan Strategis, Panglima TNI Terima Courtesy Call Panglima Angkatan Tentera Malaysia
Menguatkan Doa untuk Prajurit yang Bertugas, Panglima TNI Gelar Doa Bersama di Cilangkap

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 13:06 WIB

Ikuti Retreat Nasional di Magelang, Muhammad Isa Lahamid : “Retreat Nasional Memiliki Makna Strategis yang Jauh Melampaui Kegiatan Seremonial”

Sabtu, 18 April 2026 - 15:42 WIB

KPK Temukan 8 Potensi Korupsi dalam Program MBG

Sabtu, 18 April 2026 - 10:45 WIB

Pers Indonesia Berduka, Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Akibat Serangan Jantung

Jumat, 17 April 2026 - 14:09 WIB

Menteri ESDM: Hingga Akhir Tahun 2026, Harga BBM Subsidi Tak Akan Mengalami Kenaikan

Senin, 6 April 2026 - 20:09 WIB

Bentuk Penghormatan Negara, Panglima TNI Pimpin Upacara Pemakaman Militer

Berita Terbaru

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K

Hukum dan Kriminal

Polisi Ungkap Motif 2 Terduga Pelaku Penikaman Nus Kei, Dipicu Karena Dendam

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:30 WIB