SUARANEWS86.COM || SUMENEP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menuai kritik. Dapur Al-Azhar Aeng Dake sebagai penyedia menu menjadi sorotan setelah sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa, Sabtu (4/4/2026).
Keluhan mencuat usai anak-anak menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Sejumlah orang tua menilai isi menu terlalu sederhana dan tidak mencerminkan standar “bergizi” sebagaimana nama programnya.
Salah satu wali murid menyatakan kondisi makanan berbau dan lengket seperti nasi basi sehingga tidak layak dikonsumsi dan akhirnya dibuang. “Bau dan lengket seperti nasi basi, tidak layak dikonsumsi. Baru saja dibuang karena sudah berbau,” ujarnya (4/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, porsi untuk jenjang SD dan SMP tampak sama dan dinilai tidak mencapai nilai Rp10 ribu. “Kalau melihat isinya seperti ini, rasanya sulit disebut menu bergizi lengkap. Menu MBG hari ini… serius nanya… apakah sampai seharga Rp10 ribu? Apakah sudah bergizi? Porsi sama antara SD dan SMP,” kata wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan menguat pada aspek anggaran. “Kalau memang nilainya sampai Rp10 ribu per porsi, kami juga ingin tahu rinciannya. Soalnya kalau lihat menunya, menurut kami tidak sampai segitu,” ujar wali murid lainnya.
Ada pula yang menyampaikan kekecewaan lebih tegas. “Kami tidak menuntut mewah. Tapi kalau membawa nama makan bergizi, minimal terlihat ada protein yang cukup dan sayur yang layak. Jangan sampai anak-anak cuma kenyang, tapi gizinya kurang,” ungkapnya.
Wali murid berharap ada penjelasan terbuka dari pengelola terkait standar harga dan komposisi gizi. “Kalau memang anggarannya di bawah Rp10 ribu, sampaikan saja secara terbuka. Biar tidak jadi asumsi macam-macam,” kata salah satu orang tua.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Dapur Al-Azhar Aeng Dake, Kecamatan Bluto, terkait rincian biaya maupun standar menu yang diterapkan.
Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab sesuai ketentuan kode etik jurnalistik. Kritik yang muncul disebut sebagai bentuk kepedulian agar program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan: meningkatkan kualitas gizi anak, bukan sekadar membagikan makanan. (***Red)




























