SUARANEWS86.COM || Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik Aqua di Subang pada Senin, 20 Oktober 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan klaim perusahaan tentang sumber air mineral yang dipasarkan sebagai air pegunungan. Namun, fakta yang ditemukan cukup mengejutkan.
Saat meninjau lokasi pabrik dan proses pengambilan air, Dedi Mulyadi menemukan bahwa sumber air Aqua bukan berasal dari pegunungan seperti klaim iklan. Air tersebut justru diperoleh dari sumur bor dengan kedalaman 100 hingga 130 meter. Hal ini berbeda jauh dengan persepsi publik yang selama ini meyakini air mineral tersebut murni dari mata air pegunungan alami.
“Ini fakta yang harus diketahui masyarakat. Selama ini kita percaya air pegunungan, tapi ternyata berasal dari sumur bor. Ini menjadi perhatian kita, terutama soal dampak lingkungan,” ungkap Dedi Mulyadi dalam keterangannya di lokasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengutip dari Suaracom, Dedi menyoroti potensi risiko lingkungan dari pengambilan air tanah dalam secara masif. Selain meningkatkan risiko longsor, hal ini juga bisa menimbulkan krisis air bersih bagi warga sekitar.
Ia menegaskan, perusahaan besar yang mengambil sumber daya alam harus memerhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Selain itu, Gubernur menekankan ketimpangan antara keuntungan besar perusahaan dan kondisi masyarakat yang kadang kesulitan mengakses air bersih.
Menurutnya, keberadaan pabrik besar seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk merasakan manfaat, bukan justru merugikan mereka.
Kunjungan Dedi Mulyadi ke pabrik Aqua ini terekam dalam video yang diunggah di kanal YouTube @Kang Dedi Mulyadi Channel, yang kemudian viral di media sosial.
Banyak warganet yang menyoroti fakta ini, mempertanyakan klaim pemasaran air mineral dari pegunungan dan meminta perusahaan untuk lebih transparan.
Sidak ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait, bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya regulasi yang tegas, agar perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan temuan ini, publik kini lebih sadar bahwa klaim pemasaran suatu produk tidak selalu sejalan dengan fakta di lapangan. Sidak ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan perusahaan untuk lebih transparan dan akuntabel dalam mengelola sumber daya alam. **
Editor : Reza

























