SUARANEWS86.COM || Seorang Pendeta Asal Aceh berinisial DS yang diduga menyebarkan ujaran kebencian dan penistaan agama melalui media sosial TikTok kini diamankan di Markas Polda Aceh setelah ditetapkan sebagai tersangka.
Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, menyampaikan bahwa penangkapan DS dilakukan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/357/XI/2025/SPKT/POLDA ACEH, tertanggal 18 November 2025, terkait dugaan tindak pidana ujaran kebencian.
“DS diamankan oleh personel Ditreskrimsus Polda Aceh berdasarkan laporan polisi yang dibuat oleh seorang mahasiswa asal Aceh Utara,” kata Joko dalam keterangan resminya yang diterima pada Sabtu (21/2/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, sebelum diamankan, DS diketahui berada di wilayah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, personel Unit 3 Siber Ditreskrimsus Polda Aceh yang dipimpin Iptu Adam Maulana, berangkat ke Kalimantan Barat pada 17 Februari 2026 dan berkoordinasi dengan kepolisian setempat.
Pada 18 Februari 2026, tim gabungan bersama Polres Bengkayang mengamankan DS dan membawanya ke Mapolres Bengkayang guna menjalani pemeriksaan sebagai saksi.
“Selanjutnya dilakukan gelar perkara melalui konferensi video (Zoom) yang kemudian menetapkan DS sebagai tersangka dalam kasus dugaan ujaran kebencian dan penistaan agama tersebut,” ucap Joko.
Sehari kemudian, 19 Februari 2026, tim membawa DS ke Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai tersangka. Tim tiba di Mapolda Aceh pada 20 Februari 2026 dan langsung melakukan pemeriksaan.
DS kemudian resmi ditahan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor: SP.Han/08/II/RES.2.5/2026/Ditreskrimsus, tertanggal 20 Februari 2026.
“DS selanjutnya resmi ditahan di Mapolda Aceh,” tegas Joko.
Polda Aceh menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap bentuk ujaran kebencian dan penistaan agama yang berpotensi mengganggu ketertiban serta kerukunan masyarakat, khususnya yang dilakukan melalui media sosial.
“Kami berkomitmen menindak tegas setiap bentuk ujaran kebencian dan penistaan agama yang dapat mengganggu ketertiban serta kerukunan masyarakat,” pungkasnya. **
Editor : Reza





















